Buah banyak digemari masyarakat karena rasanya serta kandungan gizi, serat dan vitamin.
Salah satu cara mendapatkan buah adalah dengan menanamnya di pekarangan rumah. Untuk pekarangan sempit tentu saja punya keterbatasan dalam menanam tanaman buah, begitu juga untuk rumah yang tidak memiliki pekarangan. Masalah keterbatasan tersebut dapat diatasi dengan menanam tabulampot (tanaman buah dalam pot)
Kini tabulampot bukan hanya sebagai tanaman penghasil buah, tetapi juga merupakan tanaman hias yang dapat memberikan keindahan, bahkan bisa menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Banyak jenis tanaman buah yang dapat dijadikan tabulampot, dalam memilih dan memeliharanya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Agroklimat (tanah dan iklim).
menghasilkan buah, tetapi bila hal ini tidak sesuai, tanaman mungkin bisa tumbuh tetapi tidak bisa menghasilkan buah.
Tanah (media tanam) secara umum adalah campuran tanah subur, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Sebagian tanaman memerlukan media tanam dengan campuran yang salah satu bagiannya lebih banyak.
Tanah yang dipakai adalah tanah subur dengan ciri berwarna hitam gelap, fungsinya untuk tempat tumbuh dan berdiri kokohnya tanaman.
Pupuk kandang yang umum dipakai adalah kotoran sapi. Pakailah pupuk kandang yang sudah masak, dengan ciri tidak basah, tidak panas dan remah (kalau digenggam hancur). Fungsi pupuk kandang adalah sebagai sumber makanan bagi tanaman dan sebagai pengikat air, agar media tidak cepat kering.
Pasir yang dipakai adalah pasir sungai dan disaring agar besar butirannya rata. Fungsi pasir ini untuk mempermudah mengalirnya kelebihan air dalam media tanam dan mengurangi mengerasnya media tanam. Fungsi pasir ini dapat diganti dengan serbuk gergaji atau sekam padi, tetapi bahan ini cepat lapuk, kelebihannya bobot yang ringan, memudahkan memindah tabulampot.
Faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, kelembaban, curah hujan dan banyaknya sinar matahari. Curah hujan dan sinar matahari dapat diatur dengan pemberian naungan dan pengaturan penyiraman. Suhu dan kelembaban hanya dapat diatur dengan penggunaan rumah kaca, tanpa rumah kaca berarti harus menyesuaikan dengan kedua faktor tersebut. Suhu dan kelembaban udara sangat tergantung pada ketinggian tempat dari permukaan laut. Pilihlah tanam yang dapat tumbuh dan berbunga pada iklim yang sesuai dengan daerah kita.
2. Jenis bibit tanaman buah.
Banyak jenis tanaman yang bisa dijadikan tabulampot antara lain anggur, belimbing, jambu biji, jambu air, jeruk (keprok, nipis, manis, purut, siam dan sitrun), durian, anggur, kedondong, mangga, rambutan, lengkeng pingpong dan sawo.
Ada dua cara mendapatkan bibit tanaman yaitu generatif (dari biji) dan vegetatif (stek, cangkok, grafting, kultur jaringan). Untuk tabulampot pilihlah bibit berasal dari pembiakan vegetatif karena cepat berbuah dan kualitas buah terjamin.
Ciri dari bibit cangkok biasanya batang pendek tetapi percabangannya banyak. Ciri dari bibit okulasi adalah adanya bekas luka tempelan dan bekas pangkasan pada batang utamanya. Ciri dari bibit sambung adalah adanya bekas luka sambungan berbentuk V.
3. Pot.
Pilihlah pot yang ringan agar mudah memindah-mindahkannya, kuat agar tahan lama dan serasi dengan ukuran serta bentuk tanamannya.
Pot harus berlubang di dasarnya agar bisa membuang kelebihan air siraman. Pot sebaiknya mempunyai kaki agar terlihat tetesan air buangan untuk mengontrol kelancaran drainase dan mencegah tembusnya akar tanaman langsung ke tanah.
4. Penanaman
Sebaiknya menanam bibit ke dalam pot pada saat suhu udara tidak tinggi, yaitu pagi atau sore hari, sehingga tanaman gampang beradaptasi dengan lingkungan barunya.
5. Perawatan
Perawatan terdiri dari penyiraman, penggemburan tanah, pemupukan, pemangkasan bentuk, pembungaan dan pengendalian hama/penyakit tanaman.
Penyiraman dilakukan apabila media tanam mulai kering, 1 atau 2 kali sehari tergantung suhu udara. Siramlah tanaman sampai terlihat air keluar pada lubang drainase pot.
Penggemburan dilakukan apabila media tanam sudah mulai mengeras. Lakukan dengan hati-hati jangan sampai merusak akar.
Pemupukan dilakukan untuk menambah kesuburan media tanam. Pupuk yang umum dipakai adalah :
Urea (Untuk menyuburkan daun, mempercepat pertumbuhan),
TSP (Untuk mempercepat pertumbuhan akar, merangsang pembungaan) dan
KCl (Untuk memperkokoh batang, mencegah rontoknya bunga dan buah, memperkuat tanaman )
6. Pergantian media tanam dan pot
Dilakukan apabila media tanam sudah sangat padat dengan akar tanaman dan pertumbuhan tanaman sangat lambat. Pada saat pergantian media tanam juga dilakukan pemangkasan akar, sehingga terbentuk rambut akar (ujung akar) baru yang berfungsi menyerap unsur hara dalam media tanam. Bersamaan dengan itu juga dilakukan pemangkasan tajuk/daun untuk mengimbangi pemangkasan akarnya.
Pergantian pot biasanya dilakukan bersamaan dengan pergantian media tanam. Pergantian pot dilakukan untuk mengganti pot yang rusak atau mengganti ukuran yang lebih besar, karena tanamannya bertambah besar.(Dari berbagai sumber)
Tanaman Sawo (Achras Zapota).
termasuk famili Sapotaceae. Hidupnya menahun, batang berkayu keras, dan percabangannya cukup rapat. Bunga sawo muncul dari ketiak-ketiak daun, sedangkan buahnya terbentuk menggantung pada tangkai buah. Daging buah cukup tebal, mengandung banyak air, dan bergetah. Rasanya manis dan beraroma khas. Bijinya berbentuk bulat memanjang atau bulat pipih, hitam mengkilap, dan berkeping dua.
Dari biji, dapat digunakan untuk perkembangbiakan secara generatif. Namun demikian, khusus untuk tabulampot sawo, sebaiknya menggunakan bibit cangkok. Alasannya, umur panen relatif genjah, sekitar setahun bahkan bisa kurang. Sementara untuk bibit asal biji, akan berbuah sekitar 4-5 tahun.
Cangkok sendiri
Pilih cabang yang cukup besar, sehat, dan lurus. Buat dua keratan melingkar cabang dengan jarak 5 cm, dan lepas kulitnya. Kerik kambium, dan biarkan selama 3 – 5 hari. Gunakan zat pengatur tumbuh akar (misal Rootone F), lalu oleskan pada bidang sayatan.
Ambil pembalut (sabut kelapa, lembaran plastik), lalu diikat pada bagian bawah keratan.
Selanjutnya, media cangkok (tanah subur dan pupuk kandang) diletakkan pada bidang keratan sembari dipadatkan hingga membentuk bulatan setebal 5 – 6 cm. Pembalut bagian atas juga diikat. Lalu ambil lidi, tusuk-tusukkan pada media yang telah terbungkus hingga membentuk lubang-lubang kecil.
Enam hingga delapan minggu kemudian, amatilah. Jika muncul akar-akar baru dari celah-celah pembalut, itu berarti pencangkokan sukses. Langkah selanjutnya adalah melakukan pendederan bibit cangkok sawo.
Siapkan polybag yang diisi campuran tanah subur dan pupuk kandang (1:1). Potong cangkokan, sebagian daun dan ranting. Lepas pembalutnya, dan masukkan di tengah-tengah polybag. Siram sampai basah. Simpan di tempat teduh dan aman. Setelah beradaptasi 4 minggu dan tunas-tunas baru bermunculan, bibit cangkok sawo dapat dipindahkan ke dalam pot.
Pot dan media tanam
Mengingat tanaman ini nantinya diharapkan berbuah lebat, pilihlah pot yang kuat dan punya diameter sekurang-kurangnya 40 cm. Pot juga sebaiknya punya kaki dan berlubang pada bagian dasarnya. Media tanam harus lengkap berisi bahan organis dan anorganis. Yang termasuk organis adalah pupuk kandang, kompos, atau humus. Sedangkan yang anorganis meliputi tanah subur, pasir, pecahan genting, atau bata merah. Untuk tabulampot sawo, Anda bisa pilih memilih media tanam, seperti campuran tanah subur, pasir dan pupuk kandang (2:1:1), atau campuran tanah, sekam padi dan pupuk kandang (1:1:1), atau campuran tanah, serbuk gergaji dan pupuk kandang (1:1:1).
Cara mengisi media, masukkan selapis pecahan genting di dasar pot. Tambahkan selapis mos dan ijuk, lalu tambahkan lagi campuran media tanam berupa tanah subur dan pupuk kandang. Jangan lupa, berikan obat Furadan atau Curater sebanyak 2 sendok makan. Keluarkan bibit dari polybag, potong sebagian akar, cabang, ranting, atau daun yang berlebihan. Setelah itu, tanam dan padatkan media tanamnya. Siram sampai basah, dan simpan di tempat teduh untuk sementara.
Sering kita jumpai, kondisi tabulampot sawo tampak kering, kurus dan ogah berbuah. Kenapa? Jawabannya pasti karena kurang atau tidak dilakukan pemeliharaan dengan baik. Untuk itu, Anda harus melakukan pemupukan NPK, yang dapat diperoleh di kios atau toko pertanian terdekat.
Pada umur satu bulan, beri pupuk NPK (15-15-15) sebanyak 50 gram per pot. Caranya, benamkan merata sedalam 10 cm. Pemupukan berikutnya setiap 3 bulan sekali. Namun demikian, jika tanaman mulai berbunga, sebaiknya menggunakan NPK yang memiliki kandungan fosfat dan kalium lebih tinggi. Misalnya, NPK 15-20-20. Beri sebanyak 100 gram per pot
Agar rajin berbuah
Idealnya, pembungaan dan pembuahan tabulampot sawo berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Pembungaan paling lebat terjadi pada musim penghujan. Namun, terkadang macet juga. Nah, untuk merangsang pembuahan, silakan simak beberapa tips berikut:
1. Sekitar 3 bulan sebelum musim hujan, beri pupuk NPK (15-20-20), dilanjutkan
dengan teknik pengeringan berselang-seling. Contohnya, selama seminggu tidak
disiram sama sekali (asal jangan sampai layu permanen). Setelah itu, siram sedikit
\ demi sedikit selama 3 hari, dan keringkan lagi. Lakukan teknik pengeringan
berulang-ulang hingga muncul tunas-tunas baru untuk pembungaan.
2.Ikat pangkal batang tabulampot sawo dengan kawat. Tujuannya untuk membatasi
transportasi air dan unsur hara dari dalam tanah yang berlebihan.
3. Jangan ragu menambahkan zat pengatur tumbuh, misalnya Dekamon atau Atonik.
4. Potong akar dengan menyisakan 3 cabang akar.
Jenis sawo
1. Sawo manila kulon
Bentuk buah lonjong, berbiji banyak, bergetah, dan cukup tahan disimpan.
2. Sawo manila betawi
Bentuk buah juga lonjong, berukuran besar, tidak banyak getah, rasa manis, tapi
kurang tahan di simpan.
3. Sawo manila malaysia
Bentuk buah lonjong, berukuran besar, rasa buahnya manis.
4. Sawo manila karat
Bentuk buah agak lonjong, berukuran besar, berkulit tebal, kasar, dan berbintil-
bintil kecil.
5. Sawo apel lilin
Bentuk buah bulat, berukuran agak besar, daging buah terasa agak keras.
6. Sawo apel kelapa
Bentuk buah bulat kecil-kecil, berkulit tebal, bergetah, berbiji banyak, dan tahan
disimpan.
7. Sawo duren
Bentuk buah bulat, kulit buah halus, dan licin. Disebut sawo duren, karena aroma buahnya mirip dengan buah durian. Ada dua macam sawo duren, yakni sawo duren hijau dan sawo duren merah.
CARA MEMBUAT PUPUK NPK SENDIRI
Tentukan dulu kandungan pupuk NPK yang akan kita buat. Misalnya kita akan membuat pupuk NPK sendiri dengan kandungan 20:15:10.
Hitung kebutuhan pupuk NPK yang akan kita buat.
Misalnya kita akan membuat 200 Kg pupuk NPK dengan kandungan 20:15:10.
Kita hitung jumlah masing-masing unsur hara yang kita butuhkan .
Unsur N : 20% X 200 = 40 kg.
Unsur P : 15% X 200 = 30 Kg.
Unsur K : 10% X 200 = 20 Kg.
Kita konfersikan kebutuhan masing-masing unsur hara dengan pupuk tunggal yang telah kita persiapkan (Urea, SP36 dan KCl). Kandungan N dalam urea adalah 54% maka untuk mendapatkan N 40 Kg maka kita butuh Urea (100 : 54) X 40 = 74 Kg Urea. Untuk mendapatkan unsur P 30 Kg kita butuh SP36 (100 : 36) X 30 = 83,3 Kg SP36. Sedangkan kebutuhan unsur K sebesar 20 Kg akan kita peroleh dari KCl (100 : 45) X 20 = 44,4 Kg.
Oleh karena itu NPK dengan komposisi 20 : 15 : 10 sebanyak 200 Kg setara dengan Urea 74 Kg + SP36 83,3 Kg + KCl 44,4 Kg.
Contoh pembuatan NPK lain :
Untuk membuat Pupuk yang setara dengan 50 Kg NPK Ponska (15 : 15 : 15) maka kita butuh :
Urea : ((15 : 100) X 50 Kg) X (100 : 54) = 13,8 Kg Urea
SP36 : ((15 : 100) X 50 Kg) X (100 : 36) = 20,8 Kg SP36
KCl : ((15 : 100) X 50 Kg) X (100 : 45) = 16,66 Kg KCl